Senin, 15 Februari 2010
Rumput Laut Sangat Primadona Dikembangkan di Buol
BUOL- Kabupaten Buol dengan panjang pantai kurang lebih 167 km, memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Potensi itu memerlukan sentuhan dan perhatian yang besar pula. Khususnya di bidang budidaya rumput laut, Kabupaten Buol mengembangkan jenis Eucheuma Cotton, yang saat ini sedang dikembangkan di tiga tempat yakni di Desa Lunguto Kecamatan Paleleh Barat, Desa Taat Kecamatan Gadung, dan Kelurahan Kumaligon Kecamatan Biau.
Kepada Radar Sulteng, Jumat (12/2) lalu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Kadis Lutkan) Kabupaten Buol, Ir Stintje Uirianto MSi, menjelaskan, pengembangan rumput laut di Desa Lunguto Kecamatan Paleleh Barat yang arealnya berhadapan dengan Pulau Raja, memiliki potensi yang luar biasa. Luas arealnya sekitar 300 ha.
Sedangkan pengembangan rumput laut di Desa Taat Kecamatan Gadung, atau tepatnya di Napo Tanjung Bulagidun, memiliki potensi seluas 100 ha. Kemudian, pengembangan rumput laut di Kelurahan Kumaligon seluas 100 ha.
Stintje Uirianto memaparkan, perkembangan rumput laut di daerah itu sangat baik dan potensial. Diharapkan, pemasarannya akan ditangani langsung oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Berkah Kabupaten Buol. Dan mendapat dukungan sepenuhnya dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Buol serta para pengusaha. “Sehingga jaminan pasar yang selama ini diragukan masyarakat nelayan, bukan menjadi penghalang. Tetapi justru menjadi penyemangat atau pemicu motivasi untuk membudidayakan rumput laut secara proporsional dan profesional, “tegasnya.
Menurutnya, apa yang telah dilakukan tersebut sangat didukung oleh Bupati Kabupaten Buol H Amran Batalipu SE MM, yang tertuang dalam salah satu misi program pembangunan lima tahun pemerintahannya, tentang pengembangan agribisnis untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Dan dukungannya terhadap peran BUMD Perusahaan Daerah Berkah (PD Berkah) sebagai salah satu pendukung pemasaran hasil-hasil kelautan dan perikanan di Kabupaten Buol.
Adalah wajar, bila para nelayan di Desa Lunguto bercita-cita ingin naik haji, setelah melihat cerahnya prospek budidaya rumput laut di daerahnya itu. “Asalkan saudara-saudara semua serius dan tekun, Pemkab Buol sangat mendukung keinginan tersebut. Rumput laut yang ditanam tanpa harus memacul dan memupuk. Kemudian tanpa terasa rumput laut dapat dipanen pada umur 45 hari, “ imbuhnya lagi.
“Mengapa daerah lain bisa? Kitapun bisa, sebab potensi rumput laut di daerah kita ada. Jadi, kita harus bisa,’’tandasnya. Ia juga berharap, semua elemen masyarakat dapat menjadi pendukung pengembangan rumput laut di Kabupaten Buol, sehingga harapan masyarakat menjadikan rumput laut sebagai sumber penghasilan.
Selebihnya lagi, selain kegiatan usaha budidaya rumput laut, kegiatan usaha ini dapat menyumbangkan nilai protein dan bahan makanan yang sangat baik untuk penguatan gizi dan pendapatan masyarakat. Makanya, tidaklah mustahil kesan masyarakat pesisir bergeser dari green revolution menjadi blue revolution.(radarsulteng | mch)



