Selasa, 16 Februari 2010
Nelayan Korban Gelombang di Buol Butuh Bantuan
BUOL – Puluhan nelayan yang bermukim di sepanjang pesisir pantai Kelurahan Buol, yang menjadi korban badai dan gelombang besar beberapa waktu lalu, hingga kini masih menumpang di rumah tetangganya. Mereka mengaku tidak dapat membangun kembali rumah miliknya, karena sebagian besar bahan bangunan yang rusak tidak dapat dipakai lagi. Olehnya, untuk membangun kembali rumah-rumah tersebut, nelayan berharap bantuan Pemkab maupun para donatur. Bantuan akan dibelikan material berupa bahan bangunan.
"Kami tidak memaksa Pemerintah Buol untuk memberikan bantuan. Kami hanya berharap semoga kami diperhatikan. Alhamdulillah jika diberikan bantuan, seperti papan dan seng. Walau hanya papan dan seng bekas. Agar kami dapat membangun kembali, sebab tidak mungkin kami terus menumpang di rumah tetangga," ujar Imran, salah seoran nelayan yang mengaku telah 9 tahun bermukim di lokasi tersebut saat ditemui media ini Senin kemarin.
Imran (53) dan sejumlah warga lainnya yang senasib mengaku, untuk saat ini tidak memiliki kemampuan untuk membeli bahan bangunan untuk membangun rumah mereka. Karena penghasilan hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi sekarang ini menurutnya, kondisi cuaca bagi nelayan tradisional sekelas mereka, sangat berbahaya jika turun melaut.
"Untuk biaya makan saja kami masih pas-pasan.Mustahil pak, kita bisa beli bahan bangunan. Makanya kita-kita ini yang rumahnya sudah tidak ada sangat berharap adanya belas kasihan dari siapa saja utamanya pemerintah, agar kami bisa diberi bantuan. biar hanya seng bekas, atap dan serpihan," pinta Imran lagi.
Takdir (60), warga lainnya juga mengungkapkan, musibah semacam itu menurutnya telah menjadi langganan setiap tahunnya. Hanya saja tidak sebesar musibah yang terjadi beberapa waktu lalu, sehingga masih bisa memperbaiki kembali rumah mereka yang terhempas gelombang.
"Setiap tahun pasti ada tiga sampai empat rumah yang roboh, tapi masih bisa diperbaiki kembali.Tapi, kejadian berapa minggu lalu kita tidak duga, karena sudah 10 tahun baru terjadi lagi gelombang sebesar ini. Makanya kami betul-betul tidak bisa bikin apa-apa tahun ini," aku Takdir.
Meski sadar lokasi tempat tinggal mereka cukup berbahaya untuk dijadikan pemukiman, namun rata-rata nelayan mengaku tidak punya pilihan lain. Selain terus bertahan di lokasi tersebut, karena mereka tidak memiliki lahan untuk dijadikan tempat tinggal lain.
"Jika ada lahan yang pinjamkan apalagi diberikan kepada kami, saat ini juga kami siap untuk pindah. Kalau bapak tanya kenapa kami betah di tempat ini, sebetulnya kami tidak betah. Hanya karena tidak punya pilihan, sehingga kami tetap bertahan di sini," ungkap salah seorang warga lainnya kepada Radar Sulteng.
Mereka juga menyesalkan sekaligus mempermasalahkan, pembangunan perumahan trans nelayan yang dibangun di dusun Tontoyon, yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka, namun kenyataannya justru ditempati oleh orang yang tidak berhak. Apalagi berdasarkan informasi yang mereka peroleh ditempati oleh PNS.
Sahlan Tahuru ketua RT lingkungan Buol mengaku, sesuai permintaan masyarakatnya, pihaknya telah melayangkan permohonan kepada pemerintah perihal bantuan bahan bangunan, namun sepengetahuannya belum ada respons atas permohonan tersebut. Kecuali bantuan jatah hidup berupa bahan makan yang telah dibagikan beberapa waktu lalu. (radarsulteng | yus)



