Kamis, 28 Januari 2010
Kepala SDN 1 Kalangkangan di Tolitoli Masuk RS
Tertekan karena Ancaman Ketua DPRD Tolitoli
PALU– Kepala SDN 1 Kalangkangan Tolitoli, Badaria, Rabu (27/1) kemarin terpaksa harus dirawat di rumah sakit (RS) Bhayangkara Polda Sulteng. Badaria didiagnosa stroke setelah didatangi orang suruhan Ketua DPRD Tolitoli, Azis Bestari.
Suaib A Taslim, suami Badaria, ditemui di RS Bhanyangkara mengungkapkan bahwa istrinya mulai sakit saat didatangi orang suruhan Azis. Badaria bahkan sempat dirawat di rumah sakit Tolitoli pada Jumat (22/1), sehari setelah rombongan Aziz Bestari mendatangi Badaria. Kedatangan ke rumah Badaria untuk meminta tandatangan legalisir ijazah SD milik Aziz Bestari.
“Istri saya diancam kalau tidak mau tandatangan legalisir ijazah. Orang Aziz Bestari mengancam akan membawakan satu patroli polisi,” tuturnya.
Selama semalam itu ujar Suaib, istrinya tiga kali didatangi pihak dari Aziz Bestari untuk meminta istrinya menandatangani legalisir ijazah. Karena Badaria merasa khawatir, masalah itu terpaksa mereka laporkan ke polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. “Istri saya tidak mau menandatangani legalisir ijazah. Karena nama sekolahnya berbeda, SDN 2 bukan SDN 1 tempat istri saya menjabat kepala sekolah. Sementara SDN 2 itu ada di Tolitoli. Istri saya tidak mau ambil risiko dikemudian hari berurusan dengan hokum. Makanya dia tidak mau tandatangan,” ungkapnya.
Suaib mengatakan, istrinya terkena stroke sehingga beberapa bagian tubuhnya sulit digerakkan. Tekanan darahnya naik setelah mendapat tekanan dari pihak Aziz Bestari, yang memaksa untuk menandatangani legalisir ijazah.
“Kami pilih dirawat di rumah sakit di Palu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi,” ujarnya.
Suaib menegaskan, istrinya tidak mau menandatangani legalisir ijazah bukan karena ada penekanan atau suruhan siapa-siapa, tapi karena istrinya tidak mau menyalahi prosedur.
Dihubungi via ponsel, koordinator bidang Humas tim sukses Aziz Bestari, Husni A Bukayer SH, membantah jika pihak Aziz Bestari melakukan intimidasi atau mengancam kepala SDN 1 Kalangkangan Badaria.
Pihak Aziz tegas Husni, hanya meminta kepada Kepala SDN 1 Kalangkangan untuk menandatangani legalisir ijazah SD Aziz Bestari, karena sudah empat hari ijazah itu belum juga ditandatangani. Makanya Kamis malam itu, beberapa orang bertamu ke rumah Kepala SDN 1 Kalangkangan untuk meminta menandatangani legalisir ijazah.
“Kami bertamu baik-baik dan diterima ibu kepala sekolah dan keluarganya baik-baik juga. Kedatangan kami hanya minta ibu menandatangani legalisir ijazah, karena sudah sesuai prosedur. Bahkan, kami juga sudah membawa rekomendasi dari Sekretaris Dinas Pendidikan Tolitoli. Tapi kepala sekolah juga tidak mau menandatangani. Malah pihak Aziz dilapor ke polisi karena perbuatan tidak menyenangkan,” jelasnya.
Sebenarnya ujar Husni, kepala sekolah itu shock hingga sakit, bukan karena ada tekanan dari pihak Aziz Bestari. Tapi karena ada tekanan dari orang-orang tertentu, yang pastinya yang memiliki jabatan untuk menolak menandatangani legalisir ijazah Aziz Bestari.
“Kami menduga ada pihak-pihak tertentu, yang tidak lain lawan politik Aziz Bestari yang melakukan penekanan terhadap kepala sekolah. Sehingga kepala sekolah tidak tahu harus mengambil kebijakan yang mana. Sudah pasti lawan-lawan politik Aziz yang bermain di belakangnya,”duga Husni. (radarsulteng/ ron)



