News Ticker

Selasa, 15 Desember 2009

Krisis Ekologi Berawal dari Krisis Spiritual

Selasa, 15 Desember 2009

Krisis Ekologi Berawal dari Krisis Spiritual
Heri Lentho: Saatnya Seniman Bekerja


BUOL - Kerusakan lingkungan atau krisis ekologi dalam skala besar, dinilai berawal dari krisis spiritual. Sehingga kerusakan ekologi yang terjadi saat ini, bisa diperbaiki sehingga tidak memburuk dengan perbaikan spiritual masyarakat. Untuk itu posisi seniman dan agamawan menjadi penting.

Seperti yang diungkapan oleh Heri Lentho, seorang koreografer dan pekerja seni yang berasal dari Surabaya. Salah satu penggagas Festival Cak Durasim Surabaya itu, menyatakan bahwa posisi seniman dan agamawan sebagai penyeimbang nilai, seharusnya bisa berperan lebih tinggi dalam krisis ekologi. Menurut Heri, kesadaran terhadap hal itu telah lahir di kalangan seniman. Yakni dengan banyaknya seniman yang mencoba masuk ke dalam tema-tema lingkungan. “Bukannya terlambat, tetapi seniman memang harus segera bekerja, tidak ngomong wacana saja,” ujar Heri saat ditemui di sela-sela Seminar Seni dan Lingkungan, Pekan Budaya, kemarin (14/12).

Dalam bekerja, Heri menuturkan sebaiknya seniman menghindari konsep-konsep elitis. Dimana menurut Heri, konsep elitis mengemasi kesenian sekadar masuk di galeri atau ke gedung pertunjukkan. Sebab dengan begitu, maka keperuntukkannya (kesenian) hanya menjadi wacana semata. Sehingga konsep elitis dalam berkesenian harus diubah.

“Sekarang modelnya lebih masuk ke wilayah-wilayah yang lingkungannya telah rusak. Seniman masuk disitu dengan keseniannya dan bersuara bersama-sama masyarakat setempat. Karena akan ada proses secara nyata membangun spirit langsung ke masyarakat itu,” jelasnya.

Heri mencontohkan seperti upaya yang dilakukan oleh seniman di Kabupaten Poso. Menurut Heri, ketika ada kerusakan ekologis yang terganggu yakni hubungan sosial masyarakat Poso, seniman lokal langsung melakukan aktivitas berkesenian yang mengingatkan betapa pentingnya persatuan. Sementara untuk kerusakan ekologi hutan, apa yang dilakukan oleh seniman tradisi Suku Wana di Kota Palu yang bersuara tentang pentingnya ekosistem, dinilai Heri perlu ditiru.

Sementara itu, Akademisi Seni asal Amerika Serikat, Prof Vincent Mc Dermott Phd kepada Radar Sulteng mengungkapkan konsep berkesenian terkait dengan lingkungan tidak bisa sembarangan. Dia menyatakan harus dibedakan antara seni dan iklan lingkungan. Menurutnya iklan lingkungan bisa saja diciptakan melalui musik, namun hal itu bukanlah seni. “We can make song for the environment, but is not art but advertising (kita bisa membuat lagu untuk lingkungan, tapi itu bukan seni melainkan iklan),” ujarnya.

Vincent menambahkan meski bukan seni, bukan berarti iklan lingkungan tidak baik. Menurutnya banyak orang setuju dengan itu (iklan lingkungan, red). Dirinya sendiri pernah diminta untuk menuliskan lagu untuk kampanye iklan lingkungan di radio dan perusahaan kosmetik. Namun, Vincent menegaskan hal itu bukanlah seni. “The real art coming deep inside and is not just concert about environment. Its concert about love, hate, good thing, bad thing, beautiful thing, bad thing and something else (Seni sesungguhnya datang dari dalam dan tidak hanya berbicara tentang lingkungan. Melainkan berbicara tentang cinta, benci, hal yang baik, hal yang tidak baik, tentang keindahan, tentang kejelekan, dan lainnya,” tambah Vincent.

Dia lantas menyatakan bahwa saat ini para seniman maupun pemerintah memerlukan sebuah ide baru dalam mengatasi masalah lingkungan. Vincent merujuk pada ide yang dimiliki oleh Badan PBB, yang belum lama ini mempertemukan Anggun, seorang penyanyi kelahiran Indonesia dengan penyanyi pria asal Afrika. Keduanya berkolaborasi dan bernyanyi bersama di Copenhagen, Denmark dalam kampanye peduli perubahan iklim. Menurut Vincent, apa yang dilakukan oleh PBB itu adalah ide yang baru.(radarsulteng/ uq)