Senin, 30 November 2009
Terminal Bumi Harapan di Tolitoli Memprihatinkan
TOLITOLI – Terminal Bumi Harapan merupakan terminal yang cukup padat aktivitas ketimbang tiga terminal lainnya di Kabupaten Tolitoli seperti terminal Lelean Nono, Susumbolan dan Sandana. Meski padat aktivitas kondisi terminal tersebut kini cukup memprihatinkan, sebagian besar hamparan aspal halaman terminal kini tidak utuh lagi, hampir di semua bagian dipenuhi lubang besar. Bahkan memasuki musim penghujan saat ini hampir seluruh halaman tergenang air.
Kondisi inilah yang mengundang keluhan masyarakat khususnya para pedagang dari luar kota Tolitoli serta sopir yang saban hari menjadikan terminal tersebut sebagai bagian dari kesehariannya. Mardin, salah seorang sopir yang mengeluhkan kondisi tersebut kepada Radar Sulteng mengaku, sangat disulitkan dengan parahnya sarana jalan terminal. Menurutnya, ia dan beberapa rekannya sebetulnya sudah tidak betah beraktivitas di terminal tersebut. Namun karena kebutuhan hidup harus terpenuhi, terpaksa dengan berat hati tetap melakoni aktivitas sebagai supir angkutan kota. “Sudah hampir tiga tahun sejak 2007, kami melakukan aktivitas sebagai sopir dengan kondisi terminal memprihatinkan seperti ini, tapi mau diapa lagi kami hanya orang kecil, meski berteriak minta terminal direhab, tidak akan didengar,” keluh Mardin.
Ia mengaku, akibat kondisi tersebut, biaya perawatan kendaraan miliknya menjadi cukup tinggi, selain sering mengganti onderdil yang karatan, setiap hari dia juga harus bekerja ekstra mencuci mobil. Karena menurutnya mustahil jika mobil masuk terminal jika tidak kotor akibat hampir seluruh bagian terminal tersebut becek akibat banyaknya lubang aspal.
Dari pantauan Radar Sulteng di terminal tersebut, khusus di depan pintu masuk terminal, terlihat kubangan besar berdiameter kurang lebih empat meter dengan genangan air setinggi 10 cm seakan menghadang dan membuat enggan setiap kendaraan yang akan masuk.
Tidak hanya itu, akibat banyaknya lubang jalan yang digenangi air, selain membuat becek juga menunjukan pemandangan jorok. Ditambah lagi dengan banyaknya sampah hasil jual beli pedagang sayur yang dibiarkan berserakan di tepi jalan terminal dalam kota.
Salah sorang pedagang sayur yang ditemui di terminal tersebut mengatakan, kebiasaan membuang sampah sisa sayuran di sejumlah lubang aspal, menurutnya sudah biasa. Lagi pula hal itu cukup membantu mengeringkan jalanan becek beberapa bagian lubang jalan terminal.
Sementara Kepala Dinas Perhubungan Tolitoli, Drs Hardi Dg Mallawa, saat dimintai komentarnya membenarkan bahwa terminal tersebut memang cukup memprihatinkan karena kondisinya yang rusak. Namun pihaknya mengaku tidak dapat berbuat banyak, karena sejak tahun 2007 hingga 2009 pihaknya mengusulkan proposal untuk merehabilitasi terminal tersebut namun tak kunjung mendapat perhatian. “Sudah tiga kali sejak tahun 2007 kami mengajukan proposal anggaran untuk melakukan rehabilitasi terminal. Namun tidak juga mendapat respons positif, makanya meski kondisi terminal tersebut cukup rusak, kami tidak dapat melakukan apa-apa selain berharap tahun 2010 terminal tersebut mendapat anggaran,” kata Hardi.
Menurutnya, untuk merehabilitasi terminal tersebut, sesuai dengan rincian anggaran yang telah disusun, untuk tahun 2007 saja sedikitnya dibutuhkan anggaran sebesar Rp675 juta. “Dengan kondisi tahun 2010, ditaksir untuk memperbaikinya dibutuhkan anggaran kurang lebih Rp800 juta,” jelasnya.
“Kami akan terus proaktif memperjuangkan agar anggarannya dapat direalisasikan. Untuk tahun 2010, kami telah mempersiapkan pengajuan anggaran. Namun semuanya terpulang kepada penentu kebijakan, apakah mau merealisasikan atau tidak,” tandasnya.(radarsulteng/ yus)
Senin, 30 November 2009
Terminal Bumi Harapan di Tolitoli Memprihatinkan
Diposkan oleh tolitoli di 11:51
Label: infrastruktur, tolitoli



