Kamis, 11 Maret 2010
Kejati Bakal Ekspos Kasus Ipal Azis Bestari
PALU - Kejati Sulteng akan membahas secara intensif kasus dugaan ijazah palsu (Ipal) yang disangkakan kepada ketua DPRD Tolitoli, Aziz Bestari. Pembahasan itu akan dilakukan dalam bentuk ekspos kasus yang direncanakan akan dilakukan dalam waktu dekat.
Wakajati Sulteng A Kadiroen SH mengatakan, ekspos perkara dilakukan untuk menyikapi dan menilai hasil pemberkasan yang kini tengah dilakukan penyidik Polda Sulteng.
Beberapa waktu lalu Kejati mengembalikan berkas perkara tahap I yang dikirim penyidik Polda. Berkas itu dikembalikan agar polisi melengkapi lagi hasil BAP (berita acara pemeriksaa) yang ada. Salah satu petunjuk yang diberikan saat itu, yakni menganjurkan polisi agar meminta keterangan ahli dari Dinas Pendidikan (Disdik) untuk memperkuat tuduhan Ipal tersebut.
Hasil petunjuk itu yang akan dibahas kembali dalam ekpos perkara nanti. “Ekspos ini akan menentukan dan menjadi jawaban apakah perlu harus dilengkapi lagi (berkas,red) atau dinyatakan sudah lengkap,” jelas Kadiroen.
Rencana ekspos kasus itu diagendakan akan digelar pada Senin pekan depan. Namun, Kadiroen belum dapat menjawab ketika ditanya apakah pihaknya akan menetapkan status tahanan sel bagi Aziz apabila perkara itu dilimpahkan sepenuhnya ke kejati kelak.
“Kami nggak bisa mengatakan kemungkinan. Karena prosesnya masih berjalan dan belum ada kepastian. Lagipula kami belum nyatakan P-21 (berkas lengkap,red) kepada polisi,” ujarnya.
Seperti diketahui di Polda Aziz tidak ditahan samasekali. Penyidik menjadikannya tersangka atas laporan mengenai ijazah STN yang dikantongi Aziz. Tandatangan dalam ijazah itu diduga dipalsukan. Alasannya, orang yang namanya tercantum sebagai kepala sekolah yang menandatangani ijazah itu keberatan dengan tandatangan itu. Orang itu tidak mengakui tandatangan itu. Alasannya saat itu sesuai tahun pembuatan ijazah itu, dirinya belum menjabat sebagai kepala di sekolah itu. (radarsulteng | mda)
Kamis, 11 Maret 2010
Kejati Bakal Ekspos Kasus Ipal Azis Bestari
Tetap Belajar Meski Beratap Terpal di SDN 22 Lipunoto Buol
Kamis, 11 Maret 2010
Tetap Belajar Meski Beratap Terpal di SDN 22 Lipunoto Buol
BUOL - Kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 22 Lipunoto yang terletak di lingkungan Tontoyon cukup memprihatinkan. Sekolah yang hanya memiliki tiga ruang kelas itu, saat ini mulai sesak seiring dengan bertambahnya jumlah murid, sehingga pihak sekolah terpaksa harus menyiasati ruangan yang ada menjadi ruangan baru. Bahkan lahan kosong pun dibangunkan ruang belajar darurat, meski hanya beratap terpal plastik dan dinding serpihan kayu dan tripleks.
Pantauan Radar Sulteng di sekolah yang dibangun di atas perbukitan tersebut Rabu (10/3) kemarin, terlihat aktivitas belajar di sekolah tersebut lazimnya seperti sekolah lain. Namun yang tidak lazim, dari tiga ruang kelas yang tersedia, tampak salah satu ruangan dibagi menjadi dua, disekat dengan menggunakan dinding tripleks.
“Satu ruangan dijadikan kantor dan satunya lagi dijadikan ruang belajar, bagi anak kelas satu,” kata Kepala SDN 22 Lipunoto, Rugaiya S Launa.
Rugaiya menjelaskan, sekolah yang dipimpinnya tersebut, kini telah memiliki empat tingkatan kelas. Sementara kelas yang tersedia hanya tiga ruangan saja. Sehingga tidak memiliki pilihan lain, selain harus membangun ruangan darurat agar proses belajar tetap berjalan.
“Awalnya, saya dan staf guru ditugaskan di sini hampir tidak ada kendala. Karena murid memang baru sampai kelas II, sehingga dua ruangan dijadikan kelas, yang satunya dijadikan kantor. Namun seiring dengan berjalannya waktu, muridnya juga bertambah satu tingkatan menjadi tiga, sehingga satu ruangan dijadikan dua,” jelas Rugaiya.
Lebih memprihatinkan lagi menurut Rugaiya, pada tahun ajaran baru ini ketika kelas tiga naik menjadi kelas empat, sementara kelas yang tersedia hanya tiga ruangan saja. “Makanya, seperti bapak lihat sendiri, sebuah bangunan kecil yang kami bangun secara darurat untuk dijadikan ruang belajar bagi kelas III. Ditambah lagi pada bulan Juni akan datang, masuk lagi tahun ajaran baru,” tambahnya.
Olehnya agar kondisi seperti itu dapat segera teratasi, pihaknya menurut Rugaiya telah mengajukan permohonan kepada Pemkab Buol, untuk dibangunkan ruangan kelas baru yang cukup memadai. (radarsulteng | yus)
Diposkan oleh tolitoli di 01:14
Label: buol, pendidikan
Sabtu, 06 Maret 2010
Jemput Sabu, Pemilik Rumah Makan di Tolitoli Dibekuk
Sabtu, 6 Maret 2010
Jemput Sabu, Pemilik Rumah Makan di Tolitoli Dibekuk
TOLITOLI – Sial nasib Ibnu Mahmudah (32), warga Kelurahan Baru yang diketahui juga pemilik salah satu rumah makan di Tolitoli. Sekitar pukul 10.00 Jum’at kemarin, Ibnu dibekuk polisi saat hendak menjemput kiriman Narkoba jenis Sabu-sabu seberat 3,26 gram. Ia ditangkap di sebuah kantor jasa pengiriman barang di Jalan Ladapi nomor 2A.
Sabu seberat 3,26 gram, menurut tersangka merupakan barang miliknya yang dikirim dari Denpasar, Bali. Barang haram itu hanya untuk dikonsumsi pribadi.
Sabu ditemukan aparat kepolisian dari Sat Narkoba dan Buser Polres Tolitoli, terkemas rapi dalam sebuah cover kaset DVD film yang dialamatkan di Jalan Ahmad Dahlan, Kelurahan Baru.
“Tersangkanya sudah lama kami intai dan kami jadikan target operasi (TO). Namun baru hari ini (Jum’at,red) bisa kami bekuk. Saat kami tangkap, tersangka tidak dapat mengelak lagi, karena sudah tertangkap tangan memiliki sabu seberat 3,26 gram. Sabu itu akan kami jadikan barang bukti,” jelas Kanit Narkoba Polres Tolitoli, Bripka Hari Joko Raharjo, saat ditemui di TKP, kemarin.
Penangkapan itu sangat mengundang perhatian warga. Kerumunan warga setempat menyaksikan penangkapan, tampak jelas dari kejauhan. Pengendara motor pun banyak yang mampir hanya untuk menyaksikan lebih dekat penangkapan Ibnu.
Menurut Joko, berdasarkan pengakuan tersangka, sabu tersebut adalah miliknya yang dibeli dari Bali, untuk dijadikan doping saat melakukan aktivitas sebagai pengelola rumah makan. “Memang hanya dikonsumsi untuk kuat kerja dan supaya tidak terlalu capek,” tambah Joko mengutip keterangan tersangka.
Meski mengaku barang bukti tersebut adalah milik tersangka, namun untuk keperluan pengembangan, polisi akan terus mengembangkan penyelidikannya. Terutama jaringan peredarannya. Siapa sangka masih ada pihak terlibat dalam kasus itu, untuk dijadikan tersangka baru. Namun untuk saat ini polisi masih akan melakukan pemeriksaan terhadap tersangka secara intensif.
Kapolres Tolitoli, AKBP Hi Ahmad Ramadhan SH yang dihubungi Radar Sulteng mengatakan, sesaat setelah penagkapan tersangka, dirinya langsung menerima laporan dari Kasat Reskrim. Ia langsung memerintahkan kepada jajarannya untuk melakukan penyidikan terhadap tersangka sekaligus mendalami kasus itu.
Atas perbuatan tersangka menurut Kapolres, pihaknya akan memberi ganjaran sesuai pasal 112 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkoba. Ibnu diancam hukuman penjara minimal empat tahun. (radarsulteng | yus)
Diposkan oleh tolitoli di 05:57
Label: Minuman Keras dan Narkoba, tolitoli
Aksi Solidaritas, HMI Tolitoli Demo Polres
Sabtu, 6 Maret 2010
Aksi Solidaritas, HMI Tolitoli Demo Polres
TOLITOLI – Imbas dari pengrusakan Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Makassar Timur Rabu (3/3) lalu, yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Densus 88, akhirnya menyulut reaksi HMI di Kabupaten Tolitoli.
Sebagai bentuk dukungan dan rasa peduli, untuk mengecam pengrusakan dan tindak kekerasan tersebut, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam HMI, Jum’at kemarin berdemo di kantor Polres Tolitoli.
Kedatangan puluhan mahasiswa untuk menyampaikan kecaman dan mendesak Polres Tolitoli mengeluarkan desakan dalam bentuk surat tertulis kepada Mabes Polri.
Rekomendasi sifatnya mendesak Mabes supaya oknum polisi pelaku pengrusakan dipecat dari jabatannya. Karena kejadian itu dianggap mencederai institusi kepolisian.
“Kami minta kepada Kapolres Tolitoli untuk segera mengeluarkan peryataan tertulis, yang intinya mendesak Mabes Polri untuk memecat oknum polisi yang merusak kantor HMI di Makassar. Apa yang dilakukan oleh oknum polisi tidak mencerminkan sikap profesionalisme,” teriak korlap aksi, Rian Virvian saat berorasi di halaman kantor Polres Tolitoli, kemarin.
Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa menyatakan dua hal penting yang mereka sampaikan untuk diteruskan ke Mabes. Yang pertama, mengutuk keras tindakan aparat kepolisian Makassar Timur terkait penyerangan sekretariat HMI. Kemudian mahasiswa meminta kepada pihak kepolisian dalam wilayah hukum Polres Tolitoli, agar dapat menindak tegas anggotanya, apabila ada anggotanya yang terbukti melakukan tindakan melanggar kode etik kepolisian.
Mendengar pernyataan tersebut, Kabag OPS Polres Tolitoli, Kompol Pribadi Sembiring Sik berjanji akan memenuhi permintaan mahasiswa. Namun khusus untuk permintaan agar Polres Tolitoli mengeluarkan rekomendasi mendesak Mabes Polri, pihaknya menyatakan hal tersebut secara kelembagaan tidak dibenarkan.
“Kalau untuk menindak tegas aparat yang lalai, terima kasih telah menyampaikan keinginan itu. Kami berjanji akan merealisasikannya. Dan kami sarankan untuk mendesak Mabes sebaiknya adik mahasiswa menyampaikan aspirasi tersebut melalui DPRD,” katanya.
Usai menggelar aksi di Kantor Polres, mahasiswa akhirnya mendatangi kantor DPRD untuk menyampaikan keinginan tersebut. Di kantor DPRD, mahasiswa diterima langsung oleh ketua Komisi A, Yamin Yunus SE. Di hadapan anggota dewan, mahasiswa mendesak lembaga perwakilan rakyat tersebut untuk segera mengeluarkan rekomendasi menyangkut tuntutan mereka. (radarsulteng | yus)
Jumat, 05 Maret 2010
Air PDAM Kotor dan Berbau, Warga Kompleks Pertokoan di Buol Minta Perhatian
Jumat, 5 Maret 2010
Air PDAM Kotor dan Berbau, Warga Kompleks Pertokoan di Buol Minta Perhatian
BUOL- Meski sudah dilakukan perbaikan sarana dan prasarana air bersih di wilayah perkotaan Kabupaten Buol, namun masih saja ada keluhan warga. Tersedianya air bersih dianggap belum maksimal di daerah itu.
Seperti pengakuan sebagian besar warga yang bermukim di kompleks pertokoan Buol. Penduduk setempat mengeluhkan air yang mereka pakai karena tidak sesuai yang diharapkan.
Padahal kata mereka, Pemerintah Kabupaten Buol dan manajemen Perusahaan Daereah Air Minum (PADAM) Motanang, sebagai perusahaan satu-satunya yang mengelola air bersih, telah menambah fasilitas air minum untuk para pelanggannya, dengan menggunakan dana APBD 2009. Seperti pembangunan bak air bersih dan penyaring air bersih sebelum menuju ke pipa air pelanggan.
Ahmad Kawante, salah seorang warga Kelurahan Buol, yang bermukim di kawasan pertokoan, Kamis (4/3) kemarin menuturkan, bahwa dirinya bersama warga lainnya sudah sebulan terakhir tidak lagi menikmati air bersih. Air yang dikonsumsi seperti biasanya di kawasan itu kotor dan berlumpur. Bahkan air yang mengalir ke rumah warga menimbulkan bau busuk.
“Kami minta diperhatikan. Karena air yang ke kami sangat kotor dan berbau busuk. Kasihan kami ini diperlakukan begini,’’keluh Ahmad.
Bahkan untuk mendapatkan air bersih, mereka terpaksa harus bersusah payah mengambil air di wilayah pegunungan terdekat dari Kota Buol. Tepatnya di kawasan perbukitan Tontoyong yang berada di wilayah Kelurahan Leok Satu, Kecamatan Biau.
Saat dikonfirmasi Kamis kemarin, Direktur PDAM Motanang, Irwan Lamaka SE, menjelaskan, mengenai air yang kotor saat ini di rumah-rumah penduduk di kompleks pertokoan, merupakan ulah warga sendiri yang mencuri air, dengan cara memotong pipa di tengah jalan. Parahnya, pipa yang dipotong ternyata tidak dipasang kembali. Hanya dibiarkan begitu saja, sehingga ketika ditarik dengan dap oleh pelanggan, justru yang muncul adalah air kotor yang berasal dari kotoran parit drainase.
Sebab kata dia, sebagian pia yang dipotong warga berdekatan dengan saluran drainase. “Ini ulah orang yang tidak bertanggungjawab,’’kesalnya.
Walau demikian, untuk menghadapi maraknya keluhan warga atas pelayanan air bersih, manajemen PDAM Motanang terus melakukan berbagai pemebenahan, termasuk mengunjungi dan memperbaiki sejumlah pipa yang dipotong warga. Walau diakui sulit mencari titik-titik pipa yang dipotong akibat pipa tertanam dalam tanah, pihaknya tetap berupaya memberikan yang terbaik bagi pelanggan. (radarsulteng | mch)



