Kamis, 24 Februari 2011 | 20:48 WIB
Lubang Lumpur Panas di Tolitoli Tertutup Banjir
PALU, KOMPAS.com - Lubang semburan lumpur panas di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, saat ini tertutup banjir setelah hujan deras mengguyur daerah itu sejak Kamis (24/2/2011) siang hingga sore.
"Kami tidak bisa melihat lagi pusat semburan karena tertutup banjir. Kami hanya bisa melihat gelembung-gelumbung air di pusat semburan itu," kata Uyo, tokoh masyarakat di Desa Malala, Kecamatan Dondo, Kamis petang.
Wilayah Tolitoli dan sekitarnya diguyur hujan lebat sejak Kamis siang hingga sore. Hujan tersebut mengakibatkan sungai Betengon di Dusun IV Betengon, Desa Malala, Kecamatan Dondo, banjir hingga ketinggian sekitar 1,5 meter. Uyo mengatakan banjir di desa itu tidak merendam sawah maupun perkebunan rakyat.
Menurut Uyo, pengalaman selama ini setiap hujan lebat di daerah itu sungai sekitarnya pasti banjir.
Sementara titik semburan hanya berjarak sekitar 10 meter dari sungai. Akibat banjir tersebut warga tidak bisa menyaksikan semburan lumpur itu dari dekat.
Petani Khawatir
Menurut Uyo, dua hal yang dikhawatirkan petani yang lahannya berada di sekitar titik semburan lumpur yakni meluasnya lubang semburan sehingga merusak lahan perkebunan sekitarnya dan ancaman bahan beracun yang keluar bersama lumpur tersebut.
"Kalau soal panik tidak, masyarakat pemilik lahan hanya khawatir saja, apalagi dengan adanya peristiwa lumpur Lampido," jelas Uyo.
Hingga kini belum diperoleh keterangan resmi dari pemerintah setempat terkait dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dinas Pertambangan dan ESDM Tolitoli.
Sebelumnya Kepala Dinas Pertambangan dan ESDM Tolitoli, Budi Katiandago menduga semburan lumpur panas tersebut hanya gejala alam biasa.
"Pengamatan awal kami, ini gejala alamiah. Kami menduga secara geologis ada rangkaiannya dengan beberapa titik air panas di daerah ini," kata Budi Katiandago. (http://regional.kompas.com)
Kamis, 24 Februari 2011
Lubang Lumpur Panas di Tolitoli Tertutup Banjir
Semburan Lumpur Panas di Tolitoli Meluas
24 Februari 2011
Semburan Lumpur Panas di Tolitoli Meluas
TOLITOLI - semburan lumpur panas di Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, kini semakin luas. Titik semburan sudah bertambah menjadi sembilan titik. Warga mulai resah karena mengingatkan pada bencana lumpur Lapindo di Surabaya.
Warga Desa Malala, Kecamatan Dondo, Uyo, mengatakan saat ini titik semburan sudah melebar sampai ke Desa Tinabong. Lubangnya sudah mulai membesar. "Lubang di dalam sungai diameternya selebar drum," ujar Uyo kemarin.
Bupati Tolitoli Moh. Saleh Bantilan meminta warga tidak mendekat ke semburan lumpur panas itu. (http://korantempo.com | DARLIS)
Rabu, 23 Februari 2011
Mantan Dirut PDAM Buol Pertanyakan Gaji
23 Februari 2011
Mantan Dirut PDAM Buol Pertanyakan Gaji
BUOL,MERCUSUAR - Mantan Direktur Utama (Dirut) PDAM Kabuapaten Buol Syamsudin Intam, yang tengah menjalani proses hukum sejak tahun 2009 silam, mempertanyakan keberadaan haknya berupa gaji yang semestinya masih diterima. Kurun setahun terakhir pembayaran gajinya dihentikan.
Menurut Syamsudin, dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Buol nomor 880/0477/EKBANG tertanggal 23 Maret 2009 selain menyebutkan pemberhentian sementara terhadap dirinya, pada poin dua sangat jelas bahwa perusahaan diwajibkan membayarkan gajinya. Dimana pada poin dua disebutkan, yang bersangkutan selama menjalani proses hukum berdasarkan putusan PN Buol yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap, diberikan penghasilan (gaji) kecuali tunjangan jabatan.
“Tetapi sejak Januari 2010 gaji saya tidak pernah dibayarkan, inilah yang saya pertanyakan sebab sangat jelas dalam SK. PDAM wajib memberikan penghasilan (gaji) saya sebelum ada ketetapan hukum yang pasti,”keluh Syamsudin.
Pejabat Pelaksana Tugas (Plt) PDAM Irwan Lamaka, didampingi Kabag Administrasi Hamid di kantornya Senin (21/2) tidak menampik hal itu. Tidak diberikannya pengahasilan (gaji) mantan Dirut PDAM sesuai SK yang ada menurut Irwan, pihaknya berdasarkan hasil keputusan pertemuan tri partit antar Pemkab, BPK RI Perwakilan Sulteng dan PDAM pada Agustus 2010
silam. BPK menginstruksikan untuk tidak membayarkannya. (http://www.harianmercusuar.com | RIF)
Limbah Lumpur di Tolitoli Mulai Meluap ke Sungai
Rabu, 23 Februari 2011 | 20:17 WIB
Limbah Lumpur di Tolitoli Mulai Meluap ke Sungai
PALU, KOMPAS.com - Limbah semburan lumpur berbau belerang di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, kini sudah tumpah ke sungai karena endapan di sekitar lubang lumpur tersebut sudah mencapai ketinggian hingga 30 centimeter.
"Limbahnya sudah mengalir ke sungai, karena kebetulan jarak sungai dengan pusat semburan hanya sekitar 10 meter," kata Sekretaris Kecamatan Dondo Iksan Jamri, yang dihubungi dari Palu, Rabu (23/2/2011).
Dia mengatakan, pusat semburan berada di perbatasan wilayah tiga desa yakni Desa Malala, Tinabogan, dan Malulu, Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli.
Menurut Iksan, pusat semburan tersebut berada di perkebunan rakyat sehingga jauh dari pemukiman penduduk. Jarak pusat semburan dengan pemukiman penduduk sekitar 1,5 kilometer, sehingga masyarakat belum terganggu.
"Tetapi kami sudah menghimbau agar tidak terlalu mendekat ke pusat semburan karena khawatir bau yang keluar dari lubang tersebut mengandung racun," kata Iksan.
Endapan lumpur yang keluar dari perut bumi tersebut sudah mencapai ketebalan hingga 30 centimeter sehingga lumpurnya sebagian mengalir ke Sungai Detengon. Muara sungai ini berada di Desa Tinabogang hingga tembus ke laut. Meski limbahnya sudah mengalir ke sungai tetapi tidak mengakibatkan air di sungai tersebut keruh karena debit air di sungai itu cukup tinggi dengan kedalaman berkisar 35 centimeter dan lebar empat meter.
Jumlah titik semburan saat ini berkisar 20 titik yang tersebar di beberapa tempat namun dalam diameter kecil. Hanya satu di antara titik semburan tersebut diperkirakan berdiameter sekitar 80 centimeter. Iksan mengatakan, lubang tersebut menyemburkan lumpur panas disertai asap hingga ketinggian 20 centimeter.
Hingga kini warga belum menemukan adanya ikan atau udang yang mati di sungai akibat limbah lumpur tersebut. Semburan tersebut mengeluarkan lumpur yang panas dan bau busuk seperti bau belerang.
"Lumpurnya cukup panas, telur ayam saja bisa matang dalam waktu dua atau tiga menit," kata Iksan.
Semburan lumpur tersebut ditemukan dua warga pada Selasa pagi. Iksan mengatakan, semburan tersebut diperkirakan sudah ada empat atau lima hari sebelumnya ditandai dengan matinya tumbuhan di sekitar lumpur. (http://regional.kompas.com)
Semburan Lumpur, Warga Tolitoli Diminta Tak Panik
Rabu, 23 Februari 2011 | 20:55 WIB
Semburan Lumpur, Warga Tolitoli Diminta Tak Panik
PALU, KOMPAS.com - Masyarakat sekitar semburan lumpur panas di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, diminta tidak panik, karena dugaan sementara semburan itu hanya gejala alam biasa.
"Pengamatan awal kami, ini gejala alamiah. Kami menduga secara geologis ada rangkaiannya dengan beberapa titik air panas di daerah ini. Makanya masyarakat kami minta tidak perlu panik," kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral, Tolitoli, Budi Katiandago, Rabu (23/2/2011) petang.
Menurut Budi, sekitar dua kilometer dari pusat semburan saat ini terdapat titik air panas yang terus mengeluarkan air jauh sebelum masyarakat menemukan lubang semburan lumpur di Dusun Betengon tersebut.
Bahkan, air panas tidak saja berada di desa itu tetapi beberapa desa lainnya di kecamatan tetangga seperti Luok Manipi dan daerah Dampal Selatan juga terdapat titik air panas.
"Tetapi belum ada penelitian ilmiah hubungan air panas tersebut dengan semburan lumpur saat ini," katanya.
Inventarisasi potensi air panas tersebut sudah lama dilakukan hanya saja belum melalui penelitian mendalam.
Pengamatan awal yang dia lakukan akan ditindaklanjuti dengan melalui dan melibatkan ahli di bidangnya.
Budi belum bisa memastikan apakah lubang semburan tersebut akan meluas atau tidak, sebab pengamatan yang dilakukan hanya pengamatan di permukaan saja.
"Lebih lanjut nanti akan kami laporkan ke Kementerian ESDM (Energi Sumber Daya Mineral) di Jakarta," katanya.
Budi berharap Kementerian ESDM bisa melakukan penelitian secara terpadu tentang gejala alam di daerah penghasil cengkeh dan kakao tersebut. (http://regional.kompas.com)



